Dua Model Masyarakat dan Habitus Membaca-Menulis

22 Juni 2023, 17:11 WIB
Ilustrasi membaca buku. /Freepick

FLORES TERKINI - Tentang aktivitas dan kegairahan membaca dan menulis, dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia sekarang masih berada di ambang garis kemiskinan. Di saat banyak masyarakat negara di dunia terus gencar dan berlomba-lomba untuk membaca dan menulis, masyarakat Indonesia masih menganggap kegiatan membaca dan menulis sebagai sesuatu yang asing. Masyarakat lebih senang mengkonsumsi hal-hal instan ketimbang melewati proses untuk mengejar atau mendapatkan target tertentu. Bahkan lebih ironis lagi, hal seperti ini sudah menjadi semacam candu yang tak mudah dilepaskan.

Mental instan masyarakat Indonesia menjalar juga dalam segi-segi pendidikan di mana para mahasiswa sebagai civitas academica terjerembab dalam jurang ini. Bukan lagi proses yang menjadi prioritas utama kegiatan akademik, melainkan hasil sekali jadi dengan ikhtiar menghalalkan segala cara. Seturut artikel yang dirilis Kominfo, UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Minat dan baca dari masyarakat Indonesia sangat rendah. Dari 1.000 orang di Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca.

Dalam kesempatan mengikuti perkuliahan bersama P. Fritz Meko, SVD, beliau menjelaskan bahwa masyarakat NTT masih tergolong dalam masyarakat pra-literer. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat NTT belum menggunakan waktu dan menciptakan kondisi untuk menulis dan membaca dengan baik. Masih banyak orang belum secara benar membaca secara tekstual berdasarkan rumusan teks bahasa Indonesia yang tertera. Sebagai bukti konkret, pada media-media cetak, masyarakat masih mengalami kesulitan dalam membaca sekadar untuk mencari alamat suatu lokasi atau tempat, membaca harga-harga barang, membaca iklan untuk mencari lowongan pekerjaan, membaca hasil pertandingan sepak bola, juga membaca potongan harga (diskon) dan iklan-iklan lain yang beredar di media online.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Dibaca, Dari Seni Keterampilan Komunikasi hingga Pengelolaan Emosi

Di zaman ini masyarakat didorong untuk mulai tekun dalam menulis dan membaca. Tidak hanya sekadar membaca dan melihat tulisan, masyarakat juga dituntut agar dapat menulis. Menyitir P. Fritz, ketika seseorang dapat menulis dengan baik maka ia turut mengubah peradaban baru. Dalam karya-karyanya ia memberikan kebaikan dan sukacita melalui bahasa-bahasa tulisannya. Pater Fritz, salah satu contoh penulis, adalah sosok yang telah banyak menorehkan nilai-nilai kekristenan dalam pelbagai feature, tulisan lepas dan karya-karya satranya. Ia juga menulis syair lagu untuk dinyanyikan bersama.

P. Fritz Meko, SVD dalam bukunya berjudul Realitas Hidup dan Warnanya, menulis tentang perihal mencintai buku dan meningkatkan minat baca. Membaca buku adalah suatu aktivitas untuk membantu memperdalam dan memperluas wawasan. Membaca juga membimbing kita kepada jalan mencerdaskan bangsa. Di sini, buku dapat dipandang seperti seorang “professor” yang tidak cerewet memberikan sumbangan wawasan. Buku adalah “guru” yang ingin mencerdaskan pembaca demi masa depan yang lebih ceria.

Namun sayangnya, generasi muda Indonesia khususnya NTT kerap kali menilai hal-hal sederhana seperti ini sebagai sesuatu yang terbilang asing. Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, ciri masyarakat pra-literer juga ditandai dengan keselaluan melirik layar telepon pintar dan menghabiskan banyak waktu bersamanya. Pada aras ini, nilai etika bersosial mulai menurun bahkan perlahan menghilang. Orang-orang akan terjebak dalam kenyamanan semu antara dirinya dan handphone dan tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. Mereka kemudian menciptakan definisi realitas baru. Di luar aktivitas manusia bersama HP, semua bersifat tidak real (nyata).

Baca Juga: SMAK Monte Carmelo Maumere Buka PMB untuk Tahun Ajaran 2023-2024, Cek Jadwal dan Syarat Pendaftarannya

Dalam konteks kampus, ciri-ciri pra-literer seperti ini akan menimbulkan sikap pragmatis. Contoh besarnya ketika dosen sedang memberikan kuliah di depan kelas, para mahasiswa malah memusatkan seluruh perhatiannya kepada HP, tanpa mendengarkan dosen tersebut. Imbasnya, apa yang diterangkan oleh dosen tidak mampu diterima secara benar dan total. Proses transfer aspek-aspek pendidikan dan pengetahuan menjadi mandek dan dapat berujung pada kegagalan.

Berbeda dengan masyarakat pra-literer, masyarakat post-literer sudah lebih cakap dalam menulis dan membaca. Wawasan atau pengetahuan dari masyarakat post-literer sudah lebih jauh di depan ketimbang masyarakat pra-literer. Ketika masyarakat post-literer dihadapkan dengan kemajuan teknologi, mereka menanggapinya dengan bijak. Era digital menjadi ruang bagi mereka untuk giat membaca dan menulis artikel sebagai media untuk memperkuat pengetahuan dan pemahaman. Ini tidak diperhatikan dalam masyarakat pra-literer yang membangun fondasi begitu tinggi dan memberikan jarak dan relasi sosial antarsesama.

Setelah itu, pertanyaan mendesak yang patut diangkat adalah: Bagaimana kedua model masyarakat ini dapat membuka diri terhadap kemajuan di era digital ini? Jawaban sederhananya ialah dengan mencintai dan membiasakan diri. Kita butuh suatu habitus yang harus dijaga dan dipelihara dengan baik. Pada dasarnya, dengan kunci dasar mencintai, seseorang akan tergerak dan kemudian terbiasa melakukan segala sesuatu yang baik. Namun membiasakan diri dengan kondisi baru adalah sebuah pencapaian yang membutuhkan proses.

Baca Juga: Kartu Prakerja Gelombang Baru Dibuka Awal Juni 2023, Catat Tanggal dan Cek Skema Terbarunya!

Setiap orang memiliki hak untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesannya sendiri. Namun, untuk menuju sebuah kebiasaan hidup yang kuat dan konsisten, dibutuhkan perjuangan-perjuangan yang tidak mudah sebab ini menyangkut pemindahan kebiasaan lama ke kebiasaan baru dan menjadikannya gaya hidup (life style). Masyarakat pra-literer harus membiasakan diri untuk membaca dan menulis dan berjuang menuju masyarakat post-literer. Untuk itu, mereka perlu keluar dari dalam kemelut “lingkaran setan” dan menuju kenyataan baru yang lebih terang. Habitus membaca dan menulis harus ditanam kuat, karena dengan membaca dan menulis, setiap orang berpeluang menjadi seorang sejarahwan. Ketika seseorang sudah menulis, akan ada banyak yang membacanya. Nama dan tulisan tersebut akan senantiasa hidup dalam ingatan para pembaca. Sebab, seorang penulis adalah sang pencetak sejarah sejati.***

Jofan Kleden - Alumnus Seminari Hokeng; Sedang Menjalani Studi Komunikasi di Unika-Kupang

Editor: Ade Riberu

Tags

Terkini

Terpopuler