Renungan Katolik Minggu Biasa V, 4 Februari 2024: Apakah Tuhan Masih Menyayangi Umat-Nya?

3 Februari 2024, 07:06 WIB
Ilustrasi. Renungan Katolik Minggu Biasa V, 4 Februari 2024. /Kolase Foto FLORESTERKINI.com/Pixabay

FLORESTERKINI.com – Renungan Katolik Minggu Biasa V, 4 Februari 2024, hadir dengan refleksi seputar kedalaman cinta Tuhan kepada umat-Nya, dimulai dengan kisah Ayub yang getir hingga peristiwa Yesus menyembuhkan banyak orang sakit. Semuanya ini bakal bermuara pada jawaban atas pertanyaan ini: Apakah Tuhan masih menyayangi umat-Nya?

Sebelum sampai ke dalam inti renungan dan refleksi rohani di hari Minggu ini, umat Katolik sekalian terlebih dahulu akan diperdengarkan bacaan-bacaan Kitab Suci dari Kitab Ayub 7:1-7 (Bacaan Pertama), Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus 9:16-23 (Bacaan Kedua), dan Injil Markus 1:29-39.

Saudari-Saudara yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus! Di dalam Bacaan Pertama, kita diajak untuk menyimak keluh kesah Ayub dari tengah penderitaan yang hebat. Seluruh Kitab Ayub dapat dibaca sebagai jeritan getir umat manusia dari jurang penderitaan. Apakah Tuhan masih menyayangi umat-Nya?

Baca Juga: Pemkab Flores Timur Tingkatkan Kewaspadaan Usai Kasus Kematian Ternak Babi di Sikka Meningkat Akibat ASF

Injil menjawab dengan kisah tentang solidaritas belas kasih Allah melalui Yesus Sang Juruselamat. Yesus singgah ke rumah Simon Petrus dan menyembuhkan ibu mertua yang sedang demam. Lalu menjelang malam, banyak orang sakit dari seluruh Kapernaum datang kepada-Nya dan mereka semua disembuhkan oleh-Nya.

Waktu itu, orang-orang belum sadar tentang ‘harga sebuah penyembuhan’. Tapi kemudian kita tahu, ketika seorang perempuan yang sakit pendarahan menyentuh jumbai jubah Yesus dengan penuh iman dan langsung disembuhkan: “Yesus tahu, ada tenaga yang keluar dari diri-Nya” (Mrk. 5:30). Sementara Matius mencatat: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat. 8:17).

Sesudah wafat dan kebangkitan Yesus, barulah kita tahu sepenuhnya, bahwa oleh sengsara-Nya kita ditebus, oleh luka-luka-Nya kita disembuhkan, oleh kematian-Nya kita dihidupkan. Itulah 'harga' penebusan Kristus!

Baca Juga: Surat Suara untuk Kabupaten Malaka ‘Nyasar’ di Maumere, Ketua KPU Sikka ‘Singgung’ Pihak Ketiga

Sesudah peristiwa penyembuhan pada sore hari dan malam itu, pagi-pagi buta Yesus pergi ke tempat sunyi dan berdoa kepada Bapa. Yesus masuk ke dalam keheningan kudus (kontemplasi) untuk menimba kekuatan baru dari Bapa, Sumber Hidup, setelah tenaga-Nya terkuras untuk orang lain. Dengan ini, Yesus mengajar bahwa misi dan kontemplasi, aksi dan keheningan doa, adalah dua sisi dari satu hidup bakti.

Rasul Paulus, misionaris agung, meneruskan karya perutusan Yesus. Dan dia menulis dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (1 Kor. 9:16-23): “Celakalah aku kalau aku tidak memberitakan Injil. Apakah upahku?” tanya Paulus.

Dan ia menjawab sendiri: “Upahku ialah memberitakan Injil tanpa upah. Aku telah menjadi segala-galanya bagi semua orang”.

Mengikut teladan Yesus, Paulus mengurbankan diri sehabis-habisnya untuk orang lain, agar mereka pun diselamatkan. Demikianpun kita umat-Nya, dituntut untuk dapat bertindak serupa Paulus, setidaknya mulai dari hal-hal yang kecil.

Baca Juga: Melangkah ke Era Pendidikan Digital: Daftar Aplikasi Belajar Online Gratis yang Membuka Akses untuk Semua

DOA

YESUS TUHAN, Engkaulah pernyataan belas kasih Bapa, Sumber keselamatan bagi kami. Dengarkanlah jeritan umat manusia dari tengah pelbagai musibah dan penderitaan, dan datanglah segera menyelamatkan kami.

Berikanlah pencerahan Roh-Mu bagi segenap warga Indonesia di hari-hari menjelang pemilu ini, agar kami memilih pemimpin yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Amin.***

Disclaimer: Renungan Katolik ini sejatinya disusun dan dibawakan oleh Pater Leo Kleden SVD, kemudian dibagikan lagi di sini dengan perubahan seperlunya, dengan maksud dan tujuan evangelisasi di media sosial.

Editor: Ade Riberu

Tags

Terkini

Terpopuler