Opini Seorang Warga Sikka yang Ragu dengan Covid-19 Ditanggapi Pihak Nakes, Begini Faktanya

- 3 Juli 2021, 20:18 WIB
Tanggapan pihak Nakes terkait postingan salah seorang warganet di Facebook./
Tanggapan pihak Nakes terkait postingan salah seorang warganet di Facebook./ /Tangkap Layar Facebook

FLORES TERKINI – Covid-19 yang sudah lama datang dari Wuhan kini masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia.

Hingga kini, Indonesia masih memerangi virus yang satu ini dan tampak bahwa di daerah-daerah Nusantara, Covid-19 bukan penyakit biasa dan tidak ditakuti.

Namun, banyak warganet melihat Covid-19 sebagai candaan dan bahan diskusi yang menyebabkan amarah dari pihak tenaga kesehatan.

Baca Juga: Covid-19 di Flores Timur Semakin Ganas, Warganet: Meningkat Bertepatan dengan Musim Batuk

Para pejuang di garda terdepan memberi respon terkait ocehan dan komentar warganet yang membuat propaganda di media sosial.

Adapun beberapa fakta tersebut tampak di beberapa group Facebook, sehingga itu menjadi ruang benturan ide paling nyata saat ini.

Inilah opini salah seorang warganet yang membuat pro dan kontra di dinding Facebook, hingga muncul beberapa komentar dari para pejuang di garda terdepan, khususnya di Nian Tana Sikka, Maumere.

Baca Juga: Bantu Korban Seroja di Adonara, Komda PMKRI Regio Flores dan PMKRI Larantuka Beri Buku Tabungan Pelajar

Corona ya penyakit virus.

Kapan hilangnya, tidak akan hilang. Kalau begitu di-apakan dgn penyakit ini? Ya dibiarkan!! Kalau dibiarkan nanti banyak warga terjangkit dan mati, siapa bilang begitu? Buktinya mereka yang dinyatakan positif dikarantina mandiri mengkonsumsi vitamin C, olahraga jemur di panas sembuh ko.

Kalau begitu penyakit biasa kah? Iya iyalah, kalau dia ganas sdh berapa banyak orang jatuh mati di pasar, gedung apartemen, perkantoran, pabrik, sekolah karena serangan Covid? Semua pasien mati di rumah sakit notabene ada juga penyakit bawaan.  Hooo begitu! Omong2 kamu sdh divaksin belum. Belum, kalau begitu ikuti prokes, kurung diri di rumah sampai kamu divaksin.

Dari perbincangan gelap ini dapat dinarasikan bahwa pemerintah sudahilah menggelontorkan dana besar2an, anggaplah ini virus seperti virus2 lainnya sehingga warga yg merasa terkena sakit penyakit covid dapat berobat di rumah sakit dgn menggunakan biaya BPJS.

Baca Juga: Update Kasus Covid-19 Flores Timur Jumat 2 Juli 2021: Total Kasus Positif 1018, Meninggal 29 Orang

Semakin pemerintah pro aktif melakukan pemeriksaan antigen, semakin banyak warga terpapar Covid. Jangankan klaster pesta, di kantor pemerintah diperiksa seluruhnya, pasti banyak sekali yg terjangkit karena OTG. 

Karena itu sekiranya pemerintah Indonesia dapat mengambil pengalaman dan pelajaran dari beberapa negara di benua Eropa dan Amerika sudah tidak menggunakan prokes (masker), justru mereka sdh mampu menerima dan menyesuaikan virus Corona sebagai bagian dari kehidupan penyakit di sekelilingnya. Solusinya percepatlah vaksin pada seluruh warga.

Demikian tulisan salah seorang warganet di grup Facebook Gerakan Membangun Nian(g) Sikka. Tulisan akun dengan nama Mardi da Gomez ini memicu banyak respon dari warganet.

Baca Juga: Kasus Covid-19 Meningkat Drastis, Pemkab Flores Timur Kekurangan Ruangan Rawat Inap

“Pak Mardi Da Gomez, tolong Pak novena dari sekarang, semoga Pak tidak datang ke Pelayanan Kesehatan karena Covid-19. Kami Nakes yg melayani pasien Covid 19 ini sudah banyak yang kewalahan karena sebagian dari kami sudah jatuh sakit karena terpapar Covid 19 di Nian Sikka ini. Pak kalau sudah tidak mau bantu kami lagi, tolong jangan propaganda pernyataan yang aneh-aneh di medsos ini. Hargai perjuangan kami Pak,” tulis Daniel Dau.

“Sangat menyayangkan saya membaca tulisan ini. Sangat tidak edukatif, Di beberapa negara yang seperti diceritakan di atas beda tingkat pemahaman masyarakat, tingkat partisipasi dlm mendukung pemerintah menjalankan prokes dan cakupan vaksinasi sdh di atas 70-80 persen,” tambah komentar dari Jhosep Muda Gudipung.

Baca Juga: Kampung Adat Lewokluok Masuk Nominasi API Award 2021, Bupati Flotim Ajak Masyarakat Beri Dukungan

Jhosep Muda Gudipung menambahkan bahwa negara kita cakupan vaksinasi masih di bawah 10% dan ketaatan atau kepatuhan masyarakat menjalankan prokes sangat kecil (tidak patuh).

Faktanya, di beberapa minggu terakhir kasus positif sudah menembus 25 ribu dalam sehari. Jika pemerintah membiarkan hal tersebut seperti saat ini pemerintah pusat menerapkan PPKM untuk Jawa dan Bali maka masyarakat tinggal memetik hasilnya.

“Kita bisa terapkan seperti negara Singapura, laksanakan asalkan beberapa hal di atas dilaksanakan dengan kesadaran penuh oleh masyarakat,” lanjut Jhosep Muda Gudipung.***

Editor: Eto Kwuta

Sumber: Facebook


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x